

Unit Pelaksana Teknis UIN Raden Mas Said Surakarta sukses menjalin kerja sama strategis dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra (Pusdaya), Kemendikdasmen. Kerja sama tersebut diwujudkan dalam bentuk Bimbingan Teknis (Bimtek) Program Kemitraan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang digelar pada Kamis (21/8). Kegiatan yang berlangsung di UPT Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta ini diikuti dosen, pengajar, dan praktisi BIPA dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), dengan menghadirkan narasumber dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dosen UIN Raden Mas Said Surakarta, serta dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Acara dibuka secara resmi oleh Rektor UIN Raden Mas Said Surakarta, Prof. Dr. Toto Suharto, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa meski bahasa Indonesia telah diakui sebagai bahasa resmi UNESCO, tantangan selanjutnya adalah memperjuangkannya agar dapat digunakan di forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Dengan jumlah penutur mencapai 269 juta orang dan makin banyaknya pusat studi bahasa Indonesia di berbagai negara, pengajaran BIPA perlu standar yang seragam agar kualitasnya diakui dunia,” ujarnya.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Kepala UPT Bahasa UIN Raden Mas Said Surakarta, Sulhani Hermawan, M.Ag., yang menekankan peran penting bahasa Indonesia dalam diplomasi internasional. Menurutnya, bahasa Indonesia kini semakin dikenal, baik di forum resmi maupun media sosial. “Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi dalam sidang umum UNESCO. Bahkan, di media sosial kita bisa melihat warga asing dari berbagai negara menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari dibanding bahasa induknya, Melayu. Tentunya, ini harus menjadi semangat dalam mengembangkan BIPA,” jelasnya.
Relevansi program ini juga tampak dari paparan para narasumber. Dony Setiawan, M.Pd., dari Badan Bahasa, memaparkan kebijakan penginternasionalan bahasa Indonesia serta pengembangan SKKNI pengajar BIPA. Beliau menekankan posisi bahasa Indonesia yang kini masuk sepuluh besar bahasa dengan penutur terbanyak di dunia dan telah diajarkan di 31 negara. Narasumber lain, Iyus Yusuf, S.S., menambahkan bahwa BIPA bukan hanya instrumen diplomasi lunak, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai industri kebahasaan global.
Dari kalangan akademisi, Prof. Dr. Siti Isnaniah, M.Pd., (UIN Raden Mas Said Surakarta) menyoroti pentingnya manajemen BIPA dan kompetensi pedagogi pengajar. Sementara itu, Dr. Aninditya Sri Nugraheni, M.Pd., (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) memaparkan strategi internasionalisasi bahasa Indonesia melalui pendekatan case method dan project based learning.
Melalui rangkaian kegiatan ini, UIN Raden Mas Said Surakarta menegaskan perannya sebagai salah satu pusat pengembangan BIPA di Indonesia. Kolaborasi dengan Badan Bahasa diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas pengajaran, tetapi juga memberi kontribusi nyata dalam menjadikan bahasa Indonesia semakin dikenal dan diakui di dunia internasional.
PELAKSANAAN TES REMEDIAL BAHASA ARAB DAN BAHASA INGGRIS PERIODE JUNI 2026
10 jam yang lalu - Umum